Loading...
Tampilkan postingan dengan label TEPIS SYUBHAT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TEPIS SYUBHAT. Tampilkan semua postingan

Dibolehkan Menasehati Penguasa Secara Terbuka

21.55 Add Comment



Di antara adab dalam Islam adalah menasihati orang lain dengan cara sembunyi-sembunyi.

Sebagian ulama berkata: “Barangsiapa yang menasehati seseorang dan hanya ada mereka berdua, maka itulah nasehat yang sebenarnya. Barangsiapa yang menasehati saudaranya di depan banyak orang, maka yang demikian itu mencela dan merendahkan orang yang dinasehati”.

Al-Fudhail bin Iyadh Rahimahullah berkata: “Seorang mukmin adalah orang yang menutupi aib dan menasehati. Sedangkan orang fasik adalah orang yang merusak dan mencela. ”

Syaikh Muhammad Ibnu Shaleh Al-Utsaimin Rahimahullah berkata: “Dan perlu diketahui, nasehat adalah engkau bertatap muka dengannya secara diam-diam, karena ketika engkau menasehatinya secara tersembunyi akan berpengaruh pada dirinya, dan dia tahu bahwa engkau seorang pemberi nasehat. Akan tetapi jika engkau menasehati di hadapan khalayak ramai terkadang membuat dia sombong yang menyebabkan dosa serta dia enggan menerima nasehatmu. Dan bahkan terkadang beranggapan bahwa engkau hendak menghinakan dan mempermalukan dia di hadapan manusia sehingga dia menolak nasehat tadi. Tetapi jika engkau menasehatinya secara rahasia akan menjadi bahan pertimbangan besar bagimu di sisinya. ”

Hal itu berlaku bagi siapa saja, baik penguasa, tokoh agama ataupun yang lainnya.

Memberikan nasehat kepada penguasa hendaknya dilakukan dengan sembunyi-sembunyi, seperti mendatanginya secara langsung atau mengirim surat kepadanya.

Akan tetapi, jika cara sembunyi-sembunyi tidak dapat ditempuh, maka diperbolehkan menasihatinya secara terbuka. Seperti mendatanginya ramai-ramai.

Imam Al-Auza’i rahimahullah berkata: Jarir pernah datang dan dia berdiri lama di pintu khalifah Umar bin Abdul Aziz radhiyallahu ‘anhu namun beliau tidak menemuinya, kemudian Jarir menulis sebuah surat kepada ‘Aun bin Abdillah yang berisi syair yang ditujukan kepada khalifah Umar bin Abdul Aziz radhiyallahu ‘anhu:

“Wahai pembaca surat yang memancangkan surbannya, (sekarang) ini adalah masamu. Masaku telah berlalu. Sampaikanlah kepada khalifah kita apabila engkau menemuinya. Sesungguhnya aku berada di pintu seperti orang terbelenggu di tanduk. ” (Lihat Tarikh Khulafa’ Karya Imam As-Suyuti Asy-Syafii dalam biografi Umar bin Abdul Aziz)

Wahib bin Al-Ward berkata: “(Rombongan) Bani Marwan pernah berkumpul di depan pintu khalifah Umar bin Abdul Aziz radhiyallahu ‘anhu kemudian mereka berkata kepada Abdul Malik yaitu anaknya, katakan kepada ayahmu, sesungguhnya para khalifah sebelum dia memberi jatah kepada kami dan mereka menetapkan posisi kami. Ayahmu menahan untuk kami apa yang ada di tangannya, kemudian Abdul Malik masuk menemui ayahnya dan menyampaikan pesan itu. Abdul Malik berkata kepada mereka, sesungguhnya ayahku berkata, aku takut mendapatkan siksa yang pedih apabila aku berbuat maksiat kepada Tuhanku. ” (Lihat Tarikh Khulafa’ Karya Imam As-Suyuti Asy-Syafii dalam biografi khalifah Umar bin Abdul Aziz)

Imam An-Nawawi Asy-Syafii rahimahullah ketika menjelaskan sebuah hadis dalam kitabnya syarah sahih muslim dalam bab “Balasan bagi orang yang memerintahkan orang lain untuk berbuat baik tetapi dia tidak melakukannya dan memerintahkan orang lain agar tidak berbuat buruk tetapi dia melakukannya”, yaitu hadis sahih yang tercantum dalam kitab sahih muslim no. 2.989, beliau rahimahullah mengatakan:
قوله (أفتتح أمرا لاأحب أن أكون أول من افتتحه) يعنى المجاهرة بالإنكار على الأمراء فى الملأ كما جرى لقتله عثمان رضى الله عنه وفيه الأدب مع الأمراء واللطف بهم ووعظهم سرا وتبليغهم ما يقول الناس فيهم لينكفوا عنه وهذا كله اذا أمكن ذلك فان لم يمكن الوعظ سرا والانكار فليفعله علانية لئلا يضيع أصل الحق
Perkataannya “Aku tidak akan membuka perkara (fitnah) di mana aku tidak menyukai sekiranya aku adalah orang pertama yang membukanya,” maknanya adalah, “Secara terang-terangan dalam menasihati penguasa di hadapan khalayak ramai, sebagaimana pernah terjadi kepada para pembunuh ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu. Dalam hadis ini terdapat adab terhadap penguasa, berlemah-lembut terhadap mereka, menasihati mereka secara rahasia dan menyampaikan perkataan manusia tentang mereka supaya mereka berhenti dari kemungkaran tersebut. Ini semua dilakukan sekiranya memungkinkan (mampu), tetapi sekiranya tidak mampu untuk menasihati dan mencegah kemungkaran penguasa secara rahasia, maka hendaklah seseorang melakukannya juga secara terang-terangan atau terbuka supaya kebenaran itu tidak diabaikan.” (Lihat Syarah Shahih Muslim Karya Imam An-Nawawi Pustaka Darul Iman Al-Azhar Mesir Halaman 271)

Menasehati secara terbuka bukan berarti mengumbar aibnya di khalayak ramai, mencacinya, menghujatnya atau mendzaliminya akan tetapi tetap memperhatikan adab-adab Islam.

Jadi, menasehati penguasa tidak hanya dilakukan secara tertutup akan tetapi ada kalanya dilakukan secara terbuka sebagaimana penjelasan di atas. Wallahu A’lam

Oleh: Abul Fata Miftah Murod, S. Ud, Lc

Ust. Firanda Andirja Menyindir Salafi Agar Tidak Fanatik Buta

03.45 1 Comment


Foto: Ilustrasi

Ust. Firanda Andirja Menyindir Salafi Agar Tidak Fanatik Buta

Ust. Firanda Andirja, Lc., M.A memperingatkan para pengikut salaf (Salafi) agar tidak bersikap fanatik terhadap Syaikh tertentu. Melalui akun faceebooknya, beliau menyayangkan sikap sebagian orang yang mengaku salafi namun justru bersikap fanatik terhadap syaikh seperti kaum sufiyah ekstrim.

Beliau juga mengatakan, “Kita mengikuti manhaj salaf untuk lari dari sikap fanatik, namun sebagian kita justru terpuruk dalam fanatik gaya baru”.


Berikut ini salinan status Ust. Firanda Andirja di akun faceebooknya:


Fanatik Gaya Baru

Kita mengikuti manhaj salaf untuk lari dari sikap fanatik, namun sebagian kita justru terpuruk dalam fanatik gaya baru...

Sungguh kita mencela dan mencela kaum sufiyah ekstrim karena sikap fanatik buta terhadap guru/mursyidnya... Ternyata sebagian kita justru terjebak dalam praktik fanatik buta terhadap seorang syaikh ... Menyalahkan sang syaikh berarti keabsahan manhaj harus dipertanyakan...!!!

- Bukankah para syaikh itu banyak bukan hanya satu?

- Bukankah masih banyak syaikh yang lebih alim yang lebih pantas untuk difanatiki -seandainya fanatis itu boleh-?

- Jika kita boleh menyelisihi Imam syafi’i dan Imam Ahlus Sunnah Imam Ahmad bin Hanbal, maka bagaimana lagi dengan syaikh zaman sekarang?

- Apalagi pendapat/manhaj syaikh tersebut menyelisihi pendapat dan metode kebanyakan ulama?
---------*****--------

Nasihat beliau juga berlaku untuk semua orang agar tidak terjatuh kepada sifat fanatik buta kepada ulama atau tokoh tertentu. Jangan menuduh orang lain dengan tuduhan hizbi kalau ternyata yang menuduh sendiri lebih hizbi daripada yang tertuduh. Hizbi bisa terjadi pada siapa saja, termasuk yang tidak berorganisasi. Dan yang berorganisasi tidak selalu harus terjatuh pada sikap hizbi.

Pada potongan vidio yang lalu, Ust. Firanda Andirja juga membolehkan organisasi jika dilakukan untuk kebaikan.

Organisasi itu perkara dunia. Selama itu tujuannya untuk akhirat, maka tidak terjadi masalah”. Ungkap beliau. Silahkan tonton vidionya di sini: “Apakah OrganisasiIslam Itu Bid’ah?”


Di bawah ini adalah screenshot status Ust. Firanda Andirja difacebooknya:



Melongok Makna “Ulil Amri” Menurut Ulama Ahlussunnah

01.06 1 Comment



Makna Ulil Amr

Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan, telah berkata Ibnu Juraij rahimahullah tentang firman Allah:

ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﺃَﻃِﻴﻌُﻮﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻭَﺃَﻃِﻴﻌُﻮﺍ ﺍﻟﺮَّﺳُﻮﻝَ ﻭَﺃُﻭﻟِﻲ ﺍﻟْﺄَﻣْﺮِ ﻣِﻨْﻜُﻢْ ۖ ‏( ﺍﻟﻨﺴﺎء: 59
"Wahai orang-orang beriman taatilah Allah, dan taatilah Rasul dan ulil amri di antara kalian". (QS. An-nisa':59)

Turun kepada Abdullah Ibn Hudzafah Ibn Qais Ibn 'Adi As-Sahmi radhiyallahu anhu ketika diutus Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dalam peperangan (sebagai amir).

Arti ulil amri dalam hal ini adalah sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Namun ulil amri bukan hanya sahabat Nabi.

Imam An-nawawi  Asy-Syafi’i rahimahullah  berkata: "Adapun yang berpendapat bahwa ulil amri adalah hanya sahabat Nabi adalah pendapat yang salah" (Syarah Sahih Muslim)

Beliau juga berkata: "Para Ulama berpendapat, bahwa (ulil amri) adalah seorang penguasa atau pemimpin yang kepadanya Allah mewajibkan ketaatan. Ini adalah pendapat mayoritas salaf dan khalaf dari kalangan ahli tafsir, ahli fikih dan lainnya. Ulama lainnya berpendapat (ulil amri) adalah ulama, dan ulama lainnya juga berpendapat (ulil amri) adalah ulama dan penguasa". (Syarah Sahih Muslim)

Ibnu Abbas berkata: "(ulil amri) adalah Ahli fiqih dan ahli agama. Mujahid, 'Atha', Al-Hasan Al-Bashri, dan Abul 'Aliyah berkata: "(ulil amri) adalah ulama. (sedangkan) pendapat yang tampak (ulil amri) adalah ulama dan penguasa." (Lihat keterangan Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya ketika mentafsirkan ayat 59 dari surat an-nisa')

"Ulil amri mencakup ulama dan penguasa, karena ulama adalah pemimpin (bertugas) menjelaskan agama (hukum) Allah, dan penguasa adalah pemimpin (bertugas) melaksanakan syariat Allah. Ulama tidak bisa eksis tanpa penguasa dan penguasa tidak bisa eksis tanpa ulama. Penguasa harus merujuk kepada ulama dengan meminta agar menjelaskan syariat Allah. Ulama juga harus menasehati penguasa, mengajaknya untuk senantiasa takut kepada Allah, dan memberikan arahan sehingga syariat (hukum) Allah diterapkan oleh para hamba-Nya." (Lihat Syarah Riyadhus Salihin Karya Syaikh Muhammad Ibn Saleh al-Usaimin rahimahullah)


Ulil Amri (Penguasa) Tidak Bisa Dipisahkan Dari Ulama

Ulil amri dalam arti penguasa di dalam mengemban tugasnya tidak bisa terpisah dari ulama, ulil amri yang memiliki tugas sebagai pemimpin negara harus selalu menggandeng para ulama dalam menjalankan tugasnya sebagai pengawal dalam penerapan syari’at dan pengawal dalam pencapaian kesejahteraan rakyat. Dengan ulil amri dan ulama sebuah negara akan mencapai negara yang aman, sejahtera, berkah dan tercapainya maslahat ummat, baik maslahat agama, maslahat jiwa, maslahat akal, maslahat harta, maupun maslahat harga diri. Hubungan antara ulil amri dan ulama harus senantiasa erat karena besarnya amanah yang diembannya, dan semua itu akan dimintai pertanggungjawaban.

Keeratan ulil amri dan ulama juga akan membuat keeratan rakyat, karena rakyat biasanya akan memperercayakan urusan kepada keduanya. Jika antara keduanya tidak terjalin hubungan yang erat, maka rakyat pun akan berpihak di antara salah satunya dan kemudian menjadi dua kubu yang berpotensi pada perpecahan.

Kesimpulan terakhir, ulil amri adalah penguasa dan ulama, maka jika ulil amri dalam arti penguasa tidak menggandeng ulama, tidak mau menerima nasehat ulama, tidak erat hubungannya dengan ulama, tidak menerapkan syariat Allah yang dijelaskan ulama atau bahkan memusuhi ulama maka ulil amri tersebut tersisa namanya saja (sebagai ulil amri), bukan ulil amri yang sesungguhnya atau bisa dikatakan ulil amri secara bahasa bukan secara istilah syar'i. Wallahu A'lam

[ Oleh: Abul Fata, Lc ]

MIZAR


Ust. Firanda Andirja, M.A Mendukung Organisasi Islam

21.17 Add Comment

Ustadz Firanda Andirja, M.A ditanya: Apakah organisasi Islam itu bid’ah?

Ust. Firanda Andirja, M.A menjawab:
Organisasi Islam itu tidak bid’ah. Organisasi itu perkara dunia. Selama itu tujuannya untuk akhirat, maka tidak terjadi masalah. Ada organisasi besar, ada organisasi kecil, seperti pondok. Pondok itu organisasi kecil, sama saja. Ada mudirnya (pimpinan pondoknya) ada pengasuh pondoknya, ada anak buahnya. Ini organisasi kecil-kecilan meskipun tidak terdaftar.

Namun tatkala organisasi tersebut dipakai sebagai ukuran wala dan bara’, kalau bukan dari kelompok saya, saya tidak mau ngaji, kalau bukan dari kelompok saya, saya tidak mau menikahi. Ini masalah kalau begini. Dia berwala dan berbara’ bukan di atas Al Qur’an dan Sunnah, tetapi di atas organisasinya. Kalau begini, maka ini organisasi yang bid’ah.

Kita tahu seperti di India ada saudara-saudara kita namanya Organisasi Ahlul Hadits, dan itu ada pemimpinnya, ada anak buahnya dan banyak teman-teman saya bermanhaj ahlussunnah, bermanhaj salaf dari kelompok ini. Tapi mereka tidak menjadikan itu sebagai ukuran al wala wal bara’ (cinta dan benci gara-gara kelompok –ini tidak boleh–).  

Kalau sudah cinta dan benci berdasarkan kelompok, misalnya, saya tidak mau menikah kalau bukan dari kelompok saya, maka ini adalah organisasi hizbiyyah. Wallahu a’lam.

Silahkan rujuk Vidio Ust. Firanda Andirja, M.A “Apakah Organisasi Islam Itu Bid’ah”.

Share agar saudara-saudara kita tidak tersamarkan mengenai Organisasi Islam.

Artikel Terkait:


Fatwa Syaikh Bin Baz Mendukung dan Membela Harokah Islam

07.04 Add Comment

Pada kesempatan yang lalu, saya telah memposting fatwa Syaikh Al Albani yang mendukung jama’ah-jama’ah dakwah (organisasi dakwah) yang mendakwahkan Al-Qur’an dan Sunnah. Silahkan kunjungi: Syaik Al Bani Mendukung Harokah

Kali ini saya memposting untuk Anda beberapa fatwa Syaikh Abdul ‘Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah (Ulama besar kaum Muslimin dan pernah menjabat sebagai Mufti Kerajaan Saudi Arabia) terkait dukungan beliau terhadap Organisasi Islam yang mendakwahkan sunnah.

Fatwa ke 1
Syaikh Abdulaziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah ditanya:

Anda dan setiap orang pasti menyaksikan kesadaran Islam di kalangan kaum muslimin yang kian berkembang, khususnya di barisan para pemuda. Apa pendapat Anda tentang kesadaran ini dan apa saja kekhawatiran Anda atasnya?

Jawaban:
Telah lalu dalam jawaban atas beberapa pertanyaan tadi bahwa harokah Islamiyyah (pergerakan Islam) yang muncul pada awal abad ini dan akhir abad yang lalu, hendaknya diapresiasi (tubasysyar bi khair).

Gerakan itu –bihamdillah- harokah yang tersebar di seluruh penjuru dunia, ia terus bertambah dan berkembang. Wajib atas kaum muslimin membantu dan mendukungnya, serta bekerja sama dengan para aktifisnya.

Tidak di ragukan lagi bahwa para aktifisnya wajib untuk didukung dan dibantu, namun hendaknya berhati-hati dari sikap menambah dan mengurangi. Karena dalam setiap aktifitas dakwah Islamiyyah dan setiap amal islami, setan menancapkan pengaruhnya, kepada sikap kurang (jafaa) atau sikap berlebihan (ghuluw).

Maka, hendaknya para ahli ilmu dan pemilik pandangan mendukung dakwah ini dan mengarahkan para aktifisnya untuk bersikap pertengahan serta berhati-hati dari sikap berlebih-lebihan sehingga mereka terjatuh pada sikap kurang dan tidak melaksanakan hak Allah, dan agar dakwah serta harokah mereka bersifat Islamiyyah dan lurus di atas agama Allah, konsisten berada di jalan yang lurus, yaitu jalan ikhlas karena Allah dan mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa sikap ghuluw (ekstrim/berlebih-lebihan) dan berkurang-kurangan. Dengan begitu, harokah ini akan tetap lurus dan membuahkan kebaikan.

Dan kepada pemimpin harokah secara khusus, hendaknya ia memperhatikan urusan ini dengan sebenar-benarnya, agar orang-orang tidak tergelincir kepada sikap jafaa dan ghuluw.

[Majmuu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, vol. 27, hal. 329 – 330, cet. Riaasah Idarah al Buhuts al Ilmiyyah wa al Iftaa]

Fatwa Ke 2
Apa penilaian Anda tentang tersebarnya madzhab ahli sunnah wal jamaah dalam barisan kaum muslimin di seluruh penjuru dunia?

Jawaban:
Telah sampai kepadaku dari banyak sumber bahwa harokah Islamiyyah –bihamdillah- kuat dan luas di seluruh penjuru dunia dan bahwa orang-orang yang masuk ke dalam Islam di awal abad ini dan akhir abad keempat belas lalu sangat banyak. Ini layak kita apresiasi, walhamdu lillah.

Aku telah mengetahui dari banyak sumber bahwa aktifitas dakwah kepada Allah ‘Azza wa Jalla telah membuahkan kebaikan yang banyak, baik di Asia, Afrika, Amerika, Eropa, Australia. Ini semuanya harus kita syukuri wal hamdu lillah dan menuntut kerja keras yang berlipat-lipat lagi dari seluruh para da’i, sebagaimana hal ini juga mengharuskan kita untuk berbaik sangka kepada Allah dan terus memohon kepadanya bantuan serta taufiq, sehingga faedah dan hasilnya semakin baik lagi.


[Majmuu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, vol. 27, hal. 322, cet. Riaasah Idarah al Buhuts al Ilmiyyah wa al Iftaa]

HASMI Menghalalkan Demokrasi?

04.00 Add Comment
Baru-baru ini beredar press rillis Harakah Sunniyyah Untuk Masyarakat Islami (HASMI) tentang himbauan kepada kaum Muslimin untuk ikut andil dalam pemenangan gubernur Muslim di Jakarta. Hal ini dilakukan mengingat pentingnya pemimpin muslim bagi penganut agama Islam dan larangan menjadikan non muslim sebagai pemimpin. Terlebih persaingan antar dua kubu calon gubernur sangat ketat. Salah satu calon gubernur beragama non muslim dan berstatus sebagai penista agama. Di sinilah letak pentingnya ikut andil dalam pemenangan gubernur muslim untuk Jakarta dan selainnya. Silahkan kunjungi: HASMI Menghimbau Kepada Kaum Muslimin Untuk Ikut Andil Dalam Pemenangan Gubernur Muslim.
~ Fatwa Syaikh al-Albani  Mendukung Tandzim (Harakah, Jum'iyyah) Karena Harakah Adalah Sarana Dakwah, Bukan Bid'ah/Hizbiyah ~

~ Fatwa Syaikh al-Albani Mendukung Tandzim (Harakah, Jum'iyyah) Karena Harakah Adalah Sarana Dakwah, Bukan Bid'ah/Hizbiyah ~

00.24 Add Comment

Beliau berkata:
“Jum’iyyah (Kelompok, Yayasan, Organisasi) mana saja yang dibangun di atas pondasi Islam yang benar yang hukum-hukumnya diambil dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan dari apa yang diamalkan oleh para ulama salafus saleh. Jum’iyyah mana saja yang tegak di atas pondasi ini maka tidak ada celah untuk mengingkarinya dan menuduhnya dengan tuduhan hizbiyyah, sebab semua itu termasuk dalam keumuman firman Allah Ta’ala:
Haruskah Kita Menamakan Diri Sebagai Salafiyyun

Haruskah Kita Menamakan Diri Sebagai Salafiyyun

08.18 Add Comment

Bermadzhab Dengan Madzhab Salafus Shalih Dan Bukan Menggabungkan Diri Kepada Kelompok Tertentu Yang Menamakan Dirinya As-Salafiyyun

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah ketika mensyarah sebuah hadits yang terdapat dalam kitab Al- Arbai'n An-Nawawiyah karya Imam An-Nawawi Asy-Syafii rahimahullah, hadits ke-28 yang dikenal dengan hadits Al-'Irbadh bin Sariyah beliau mengatakan:
"ولا شكّ أنّ الواجب على جميع المسلمين أن يكون مذهبهم مذهب السّلف لا الانتماء إلى حزب معيّن يسمّى السّلفيين، والواجب أن تكون الأمّة الاسلاميّة مذهبها مذهب السّلف الصّالح لا التّحزّب إلى من يسمّى ( السّلفيون) فهناك طريق السلف وهناك حزب يسمى (السّلفيّون) والمطلوب اتباع السلف،إلا أن الإخوة السلفيين هم أقرب الفرق إلى الصواب ولكن مشكلتهم كغيرهم أنّ بعض هذه الفرق يضلّل بعضاً ويبدعه ويفسقه"

Menjawab Tuduhan Fitnah Terhadap HASMI

06.20 1 Comment

Oleh Abu Ibrahim

Beberapa waktu yang lalu saya tidak sengaja membaca artikel tentang Harakah Sunniyyah untuk Masyarakat Islami (HASMI) -sudah berubah menjadi Himpunan Ahlussunnah untuk Masyarakat Islami (HASMI)- di salah satu blog ikhwan salafi (ngakunya sih begitu). Artikel yang saya baca bukan artikel positif, tapi artikel yang penuh dengan hujatan dan fitnah tak berdasar. Artikel itu dimuat untuk membantah buku yang diterbitkan oleh HASMI dengan judul, “Membongkar Kedok Salafiyun Sempalan” sebagai bantahan atas tuduhan dan serangan mereka terhadap HASMI. Sebenarnya HASMI tidak mau disibukkan dengan debat dan bantah-bantahan, karena hal itu hanya akan membuang banyak waktu. Itu dilakukan hanya untuk memberi sedikit efek jera kepada kelompok yang selalu mentahdzir jama’ah selain mereka.

Adapun di sini saya tidak akan menyangkal hal ini (tentang buku tersebut) karena itu di luar kemampuan saya yang masih fakir akan ilmu. Biarlah para asatidz HASMI yang menjawabnya. Saya hanya ingin membantah tuduhan-tuduhan admin blog yang bertendensi fitnah di dalam kolom-kolom komentar artikel tersebut. Sengaja saya tidak share linknya, karena akan menambah rating blog tersebut dan akan menambah dosa pemilik blog karena telah menfitnah jama’ah dakwah ahlussunnah.

Ikhwan tersebut menyebut dalam kolom komentar artikelnya, bahwa HASMI adalah harokah sururiyah dan khawarij yang menyimpang dari jalan salafush shalih. Admin blog juga menyebutkan bahwa HASMI membolehkan memberontak terhadap pemimpin. Selain itu, ditulis bahwa HASMI selalu menjelek-jelekan ikhwan Rodja dan mencegah para anggotanya untuk mendengarkan radio Rodja. Ada satu tuduhan yang membuat saya tersenyum simpul. Si ikhwan oknum salafi ini juga bilang bahwa di HASMI ada baiat anggota layaknya kelompok NII. Benarkah demikian?? Mari kita uji..!!

Baiklah, saya sangat ingin menjawab tuduhan itu (sebagai pembelaan saya terhadap harakah dakwah ahlussunnah) dengan apa yang saya ketahui tentang HASMI. Secara, saya merupakan anggota HASMI yang masuk melalui salah satu program pengkaderan da’i yang diselenggarakan oleh Ma’had Huda Islami (MHI) , salah satu ma’had yang telah banyak mencetak kader dakwah yang mumpuni dan insyaallah menjadi harapan ummat di masa yang penuh dengan fitnah ini.

Sikap salafush shalih ketika mendengar suatu berita
Dalam pandangan saya, pemilik blog yang mengaku ikhwan salafi itu sangat jauh dari cerminan akhlak salafi. Bukankah Islam menganjurkan untuk tabayun? Tidak seharusnya seorang muslim menyebarkan berita yang masih samar, apalagi berdasarkan informasi tak berdasar, qila waqol (kata orang) tanpa pernah tabayun alias chek and rechek dari orang/pihak yang bersangkutan.

Dari Abu Hurairoh radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Cukuplah seseorang dikatakan sebagai pendusta apabila ia mengatakan setiap apa yang ia dengar” (H.R Muslim)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن جَآءَكُمۡ فَاسِقُۢ بِنَبَإٍ۬ فَتَبَيَّنُوٓاْ أَن تُصِيبُواْ قَوۡمَۢا بِجَهَـٰلَةٍ۬ فَتُصۡبِحُواْ عَلَىٰ مَا فَعَلۡتُمۡ نَـٰدِمِينَ
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasiq membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurot[49]: 6)


Bantahan-bantahan

Benarkah HASMI bermanhaj Ikhwanul muslimin (IM)?
Sejatinya, HASMI adalah harokah dakwah yang mempunyai visi dan misi untuk membentuk masyarakat Islami di Indonesia. Harokah HASMI murni dakwah dan perbaikan ummat. HASMI tidak menempuh dakwah parlemen, tetapi tidak menganggap muslim yang berdakwah di parlemen sebagai kafir atau musuh. Mereka adalah saudara kita muslim. Sementara IM menempuh dakwah parlemen.

Benarkah HASMI telah mengkotak-kotak umat Islam dengan mendirikan organisasi dakwah? Benarkah HASMI menganut paham hizbiyah/ashobiyah?
HASMI mempunyai prinsip bahwa organisasi itu adalah alat (sarana) dakwah, bukan tujuan dakwah. Dalam satu kaidah bahwa sarana itu hukumnya mengikuti tujuannya. HASMI tidak berdakwah atas nama organisasi, tapi semata-mata untuk meninggikan Kalimatullah. Tujuan dakwah HASMI adalah untuk menyebarkan Islam bermanhaj Ahlussunnah wal Jama’ah, bukan untuk menyebarkan paham organisasi. Bahkan HASMI menganggap semua aktivis dakwah yang berdakwah dengan manhaj yang lurus adalah saudara.

Berorganisasi bukan berarti memecah belah umat atau mengkotak-kotak umat, karena organisasi bukanlah perpecahan. Tapi setiap organisasi dilihat dari apa yang mereka usung dan dakwahkan. Jika suatu organisasi mendakwahkan Al-Qur’an dan As Sunnah serta pemahaman Salafushshalih, maka organisasi seperti itu bukan perpecahan.

Hizbiyyah/ashabiyyah tidak selalu terjadi dalam sebuah organisasi. Hizbiyyah bisa terjadi pada siapa saja, termasuk yang tidak berorganisasi. Bahkan sangat mungkin mereka yang menuduh organisasi sebagai hizbiyyah, lebih hizbiyyah daripada apa yang mereka tuduhkan. Silahkan visit: Menjawab Syubhat Organisasi

Benarkah HASMI menyarankan kelompoknya untuk tidak mendengar radio Rodja, bahkan menjelek-jelekan Radio Rodja? HASMI menganggap radio Rodja bukan radio bermanhaj Sunnah, tapi menganggap itu dakwah murjiah?
Ini benar-benar fitnah yang bisa memecah belah ummat. Seakan-akan HASMI adalah organisasi yang ashobiyah terhadap kelompoknya. Itu tidak benar. HASMI tidak pernah melarang anggotanya untuk menimba ilmu dari siapa pun selama itu berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah serta pemahaman para Shahabat.

Sangat mungkin sebagian anggota HASMI juga menjadi pendengar Rodja disamping pendengar Fajri 99,3 FM (radio mitra HASMI). Perlu diingat, karena dakwah HASMI bukan dakwah terhadap organisasi, melainkan dakwah terhadap Islam yang lurus, maka pendengar Fajri FM pun adalah dari semua kalangan muslim. Mengingat Fajri FM tidak pernah gembar-gembor mengajak pendengarnya untuk menjadi anggota HASMI.

Yang terjadi justru sebaliknya, merekalah yang sangat antipati terhadap radio Fajri. Menghalang-halangi orang lain dari mendengar radio dakwah sunnah Fajri. Menuduhnya dengan tuduhan yang buruk. Semoga Allah memberi mereka hidayah.

Benarkah HASMI berpaham Khawarij?
Di antara kesesatan faham khawarij adalah meyakini bahwa semua dosa besar dapat mengeluarkan seseorang dari Islam. Mereka dengan sangat mudah mengkafirkan orang-orang (secara langsung personalnya) yang mereka anggap murtad tanpa melihat syarat-syarat dan halangan-halangannya. Dengan begitu, tuduhan mereka terhadap HASMI itu sangat keji. Karena HASMI tidak pernah mengkafirkan kaum Muslimin di luar kelompoknya, dengan cara-cara khawarij. Dan kami tidak diajarkan untuk itu, karena tugas kami bukan menghukumi personal kaum Muslimin. Tapi kami diajarkan untuk mendakwahkan Islam dengan cara yang santun.

Sayangnya sang admin tidak menyebutkan dimana letak paham khawarij di dalam organisasi HASMI. Sangat tidak bijak menganggap satu kelompok berpaham sesat sementara tidak menyertakan bukti-bukti yang valid. Ini berarti menuduh saudara semuslim tanpa kebenaran. Kalau memang HASMI dianggap berpaham khawarij karena membolehkan demonstrasi, maka itu juga tidak benar. Sebagian ulama membolehkan demonstrasi sebagai satu bentuk amar ma’ruf nahi munkar, bukan untuk merusak. Dan hal ini disahkan oleh undang-undang pemerintah. Terlebih lagi pemerintah kita bukan pemerintah Islami. Untuk lebih meyakinkan kita tentang bolehnya berdemonstrasi, silahkan kunjungi: Argumen Aksi Demonstrasi dan Tulisan Ini Membungkam Mulut Pembenci Aksi Bela Islam.

Benarkah anggota HASMI diharuskan baiat?
Ini yang menurut saya lucu. Saya tegaskan, sama sekali tidak ada baiat ketika ingin menjadi anggota HASMI. Bahkan anggota HASMI yang keluar dari HASMI pun tetap dianggap sebagai saudara. Tidak sama sekali dikafirkan atau disesatkan selama ia berada di atas manhaj ahlussunnah wal jama’ah. Maka jelas sekali tuduhan admin yang mengaku ikhwan salafi itu adalah tuduhan dusta yang tak berdasar.

Himbauan Untuk Kaum Muslimin
Saat ini banyak sekali beredar situs-situs yang tidak bertanggung jawab. Memuat artikel tanpa bertabayyun dan banyak merugikan pihak lain. Sebagai seorang mukmin, tidak dibenarkan menelan mentah-mentah setiap informasi yang kita dapat dari internet. Segala sesuatunya perlu tabayyun agar tidak terjadi kesalahan fatal. Terlebih lagi menyangkut jama’ah tertentu yang benar-benar mendakwahkan Ahlussunnah wal Jama’ah.

Untuk mengenal HASMI lebih dalam, silahkan Anda dapat merujuk kepada sumbernya “Kenali Kami di Sini” atau kunjungi website resmi HASMI (www.hasmi.org) atau kunjungi blogspot www.hasmiku.blogspot.co.id .   


Artikel Terkait: